LBD A la Chevron

December 26, 2008

Sebagai perusahaan minyak terkemuka dunia, Chevron tak lantas abai terhadap masyarakat di sekitar kawasan ekplorasi minyak dan gas. ”Bahkan melalui program Local Business Development (LBD) Chevron diganjar Padma Award pada tahun 2008 ini. Perolehan award ini membuat kami tahu bahwa perusahaan ini menjadi pionir program yang seperti ini, ”ujar Senior Vice President Business Services Chevron Indonesia A. Hamid Batubara pada Seminar Nasional ”Indonesia Dalam Krisis Finansial dan Ketahanan Energi” yang diselenggarakan oleh Forum Studi dan Diskusi Ekonomi Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (HIMIESPA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM di Kampus Bulaksumur, Yogyakarta (13/12).

LBD yang dimaksud Batubara adalah komitmen Chevron sejak 2001 untuk membina dan meningkatkan kapasitas perusahaan kecil (UKM)/koperasi melalui program kemitraan berdasarkan asas kebersamaan yang saling menguntungkan. Program ini juga mendukung program pemerintah dalam pembinaan terhadap Usaha Kecil dan Menengah dengan nilai satu proyek maksimum Rp200 juta. Komoditi yang tersedia pun mudah didapat di pasaran lokal/dalam negeri. ”LBD juga menyentuh bidang agribinis, seperti yang kami lakukan untuk para pelaku UKM dan koperasi di daerah Gunung Salak, Bogor dan Darajat, Garut. Mereka kami ikutkan dalam pelatihan bercocok tanam cabai dan juga sayur-sayuran ke IPB, termasuk pelatihan pembuatan proposal usaha yang baik, ”ucap lulusan Teknik Elektro ITB ini.

Sedangkan Sandiaga S.Uno, Ketua Komite Tetap KADIN mengungkapkan keyakinannya bahwa meskipun krisis finansial AS berimbas kepada para pelaku UKM di Indonesia, namun efeknya tidak akan dirasakan sampai berlarut-larut. Hal itu berkaca pada krisis ekonomi 1998, justru UKM yang menjadi juru selamat masyarakat, karena mereka sangat cepat bangkit dari krisis. ”Jangan sampai meremehkan kekuatan daya adaptasi UKM terhadap krisis, ”tandas Wirausahawan Terbaik Asia ini. Khusus UKM yang begerak dalam bidang agribisnis, Sandiaga mengungkapkan, meskipun harga CPO menurun jadi sekitar USD450/ton, setelah sebelumnya di level USD1200/ton. Namun diyakini pada saatnya nanti akan mengalami rebound.

Advertisements

2009, Dibutuhkan 600 SMD

December 26, 2008

Ditengah krisis perekonomian global sekarang ini, Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian RI membawa kabar gembira untuk para sarjana peternakan di seluruh Indonesia. Program dana bergulir yang merupakan satu-satunya bagi lulusan perguruan tinggi ini menelurkan program yang diberi label Sarjana Membangun Desa (SMD). “Melihat perkembangan yang menggembirakan pada tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun 2009 Ditjen Peternakan membutuhkan 600 orang SMD yang akan diterjunkan di seluruh Indonesia, “ujar Dr. Ir. Riwantoro, Kasubdit Ternak Potong Direktorat Ternak Ruminansia Ditjen Peternakan didampingi Ir. Daryadi, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Propinsi DI. Yogyakarta dan Prof. Dr. Nono Ngadiyono, pakar ternak potong UGM pada Temu dan Evaluasi Program SMD di kantor Dinas Pertanian Propinsi DIY (22/12).

Tujuan yang ingin dicapai program SMD ini adalah untuk merealisasikan Program Swasembada Daging 2010. “Dengan berjalannya program ini, maka akan mampu mengembangkan aset, yang nantinya akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan para peternak dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan para sarjana dan juga peternak, sehingga nantinya bisa mengurangi importansi sapi, “ungkap Daryadi. Selain itu, imbuh Daryadi, SMD juga diharapkan mampu berinovasi, seperti melakukan pembibitan kambing PE yang sedang marak kontes, selain air susu kambing PE yang bernilai jual tinggi. Bahkan menurut Riwatoro, jumlah impor sapi kita tahun 2008 ini mencapai 500 ribu ekor. “Sebagai pilot project pada tahun 2006 telah diterjunkan dua orang SMD di wilayah Sleman dan Bantul, DIY dengan bantuan dana sebesar Rp365 juta per paket per SMD untuk mengembangkan ternak sapi potong. Kemudian tahun berikutnya 10 orang untuk wilayah Bantul dan Ciamis. Melihat kemajuan yang positif dari kinerja SMD tersebut, kemudian ditambah kuotanya menjadi 200 orang di tahun 2008, “aku Riwantoro.

Respon baik pemda maupun perguruan tinggi terhadap program SMD pun cukup menggembirakan. Dari hasil lawatannya ke pelbagai daerah, Riwartoro memperoleh beberapa temuan unik. “Contohnya Pemprop Sumbar sudah menyiapkan dana lebih dari 800 juta untuk menyiapkan lulusan Fapet Unand sehingga diharapkan bisa memeproleh program SMD. Sedangkan Pemkab Banyumas merespon sangat positif program SMD dengan mengeluarkan sebuah Peraturan Bupati dalam rangka menyiapkan lahan 7000 m2 untuk masing-masing SMD, “ungkap Riwantoro.

Adapun paket-paket bantuan dana bagi SMD adalah sebagai berikut: sapi potong 215 paket @ Rp325 juta, sapi perah 15 paket @ Rp325 juta, kambing dan domba 340 paket @ Rp125 juta, unggas lokal (itik/bebek, ayam kampung) 125 paket @ Rp80.700.000, dan kelinci 15 paket @ Rp50 juta.

Ya ALLOH

December 26, 2008

Jika Bukan ENGKAU yang Memberi Ampunan Kepadaku, Adakah ALLOH Selain Engkau?

Ungkapan itu terlontar dari seorang pemahat patung tenar seantero Jazirah Arabia. Amir Ghazali (AG) namanya. Kakek berusia 99 tahun ini sudah 99 hari lamanya terus menerus tanpa henti berjalan sambil berteriak-teriak histeris. Sesekali teriakannya diselingi doa memohon ampunan YANG MAHAKUASA itu. Tak terasa ratusan kilometer AG berjalan tanpa arah yang pasti. Siapa pun yang melihatnya akan bilang bahwa AG adalah orang yang aneh bahkan mengarah pada gangguan jiwa alias gila berat. Bahkan keanehannya semakin bertambah, karena kemana pun AG pergi, AG selalu membawa secarik kertas bertuliskan huruf Arab. Setiap AG membacanya, tanpa dikomando air matanya segera bercucuran disertai suara isak tangis yang memilukan. Ketika AG memalingkan wajahnya dari secarik kertas “misterius” itu, AG pun kembali berteriak histeris seraya berdoa.

Sayangnya, masyarakat dimana AG tinggal adalah masyarakat jahiliyah lagi malas beribadah kepada ALLOH. Negeri itu berada di sebuah lembah gunung bernama Jabal Rahmah. Negeri itu luasnya tidak sampai 454.590 km2 dengan jumlah penduduknya 18.459. Seluruh masyarakatnya tidak tahu baca tulis, termasuk huruf Arab. Karuan saja tak ada orang yang paham perihal isi dalam secarik kertas yang ditenteng Kakek kaya raya itu. Dan parahnya lagi, tak ada yang tahu menahu pula kenapa Kakek itu mengidap gila yang sangat parah seperti itu.

Meski jahiliyah, masyarakat tersebut diberi karunia berupa negeri yang subur lagi makmur. Sumberdaya alam, seperti minyak bumi dan gas alam melimpah ruah. Tanahnya yang lain pun cukup subur untuk ditanami pepohonan, seperti kelapa, coklat, dan kurma. Namun uniknya, seluruh masyarakat negeri ini suka pada patung. Patung, bagi masyarakat itu adalah sangat keramat dan harus disembah. Maka jangan heran, seluruh pelosok negeri penuh sesak dengan jutaan patung. Ada patung manusia, patung hewan, dan patung tumbuhan. Dari semua patung yang ada, patung yang paling banyak dimiliki orang-orang disitu adalah patung emas yang menyerupai seorang Kakek setinggi 2.25 meter yang berjanggut putih dan bertongkat kayu coklat.

Pembuat Patung yang Murtad
Menurut cerita orang-orang disitu, Kakek Gila itulah yang membuat patung sang Kakek itu. Kepandaaiannya memahat patung terkenal seantero negeri itu, bahkan hingga ke seluruh Jazirah Arabia. Selain Kakek Gila itu, di negeri itu terdapat ribuan pemahat patung. Namun keahliannya tidak mampu menandingi sang Kakek Gila itu. Maka sang Kakek, sebelum mengidap kegilaan yang parah, selalu kebanjiran order pembuatan patung. Dan hebatnya lagi, para pemesan patung maunya dibuatkan patung si Kakek emas hanya oleh si Kakek Gila itu. Meskipun pemahat-pemahat yang lain mencoba meniru seperti apa yang dibuat Kakek Gila, tetap saja tidak bisa sebagus buatan asli. Sebagaimana warga yang lain, sejak menjadi pembuat patung Kakek Gila itu tidak pernah beribadah kepada ALLOH.

Sebelum menekuni pekerjaan sebagai pembuat patung, sekitar 50 tahun yang lalu, sebenarnya Kakek Gila itu sukanya berburu ilmu kepada para ulama terkenal di seluruh Jazirah Arabia. Masa kecilnya dihabiskan di istana, karena sebenarnya dia adalah anak seorang raja di negeri itu. Dialah Pangeran Amry. Seperti anak raja pada umumnya, segala kebutuhan hidupnya senantiasa terpenuhi, tak ada yang kurang. Bahkan sang ayah tak segan-segan mengundang guru-guru terpilih ke istana untuk mendidik buah hatinya itu.

Meski sudah beranjak dewasa, namun kerakusannya akan ilmu semakin menjadi-jadi. Pas saat umurnya menginjak 18 tahun, dia pun mengjakukan permohonan untuk keluar dari istana untuk mencari guru yang lebih mumpuni. Tak kuasa sang ayah dan ibu menahan keinginannya itu. Dari gurunya yang ke-18, dia diminta untuk berguru kepada seorang ulama hebat di suatu negeri sejauh 153 km dari istana ayahnya. Dengan berat hati orangtuanya melepas kepergiannya. Dengan ditemani seorang pengawal, dia membawa perbekalan yang lebih dari cukup selama bertahun-tahun.

Nah, sejak itulah dia lepas dari pengawasan orangtuanya. Hari pun berganti pekan. Pekan pun berganti bulan. Bulan pun berganti tahun. Demikianlah bertahun-tahun pangeran….bersambung…..

Fakta-fakta

December 26, 2008

Tony Prasetiantono (Ekonom UGM)
Ekonomi Dunia
# 1929: great depression akibat kegagalan kapitalisme
# 1944: krisis pasca Perang Dunia II
# 1980: krisis AS
# 1997: krisis finansial Asia
# 2008: krisis finansial yang dipicu oleh kemacetan subprime mortagage, dan memakan korban bangrutnya Lehmann Brothers, karena Bush tak mau menggelontorkan dana penolong, karena salah satunya LB pendukung Obama, meskipun kerabatnya menjadi petinggi di LB. Resep Alan Greenspan tidak manjur, buktinya AS kolaps yang berimbas pada negara2 lain di dunia.
# PDB AS: USD14 triliun. Komponen penyumbang krisis: pertama, property dengan dana: USD10,2 triliun (subprime mortgage: USD1,5 triliun). Ini berbahaya, karena PDB dihegemoni oleh sektor property. Kedua, otomotif, terancam bangkrutnya The Big Three: General Motors, Cryshler, Ford. Padahal GM biasanya mampu menjual 18 juta unit mobil ke seluruh dunia. Dengan ”bangkrut”nya TB3, maka Toyota dan Honda akan jadi raja di dunia otomotif. Chicago Tribune, salah satu media besar di AS bangkrut (Kompas, 13/12/2008). Ketiga, kartu kredit: USD 1 triliun. Keempat, suku bunga jangan > 5,5%. Bahkan yang aman sebagaimana Jepang hampir 0%, yang penting sektor riil berjalanm sebagaimana perekonomian syariah.
# PDB Indonesia sekitar Rp4500 triliun (sekarang), harapan Rp5000 triliun (tahun depan), dana terkait property sekitar Rp1012 triliun. Ini tidak terlalu berbahaya, beda dengan AS. Begitu juga dengan kredit sepeda motor (jumlah sepeda motor 40 juta, penduduk 230 juta jiwa) seperti sekarang ini, tidak terlalu berbahaya (angka penjualan 5 juta/tahun). Akan berbahaya jika defisit kita mencapai > 2% PDB: Rp90 triliun. Kondisi sekarang, rupiah aman pada level Rp10.000,00-11.000,00/USD.
# Penurunan level kekayaan akan beribmas pada orang kecil, misalnya penghasilan si pengusaha menurun, maka semula pakai sopir, karena krisis si pengusaha menyetir sendiri.
# ASEAN Plus 3: China, Jepang, Korea merupakan pemilik cadangan devisi terbesar di dunia (55%). China (1,3 miliar jiwa): cadangan devisi: USD1,9 triliun. Jepang hampir USD1 triliun.
# Solusi krisis finasial global: pertama, menurunkan suku bunga mendekati 0,5%. Kedua, mengetatkan fiskal. Ketiga, bail out. Jangan terlalu hemat, karena justru akan menjadikan krisis benar2 terjadi. Dengan konsumsi maka ekonomi rakyat akan berjalan.

Agus Cahyono Adi (Departemen ESDM)
# Ketahanan Nasional: Ketahanan Politik, Ketahanan Ekonomi, Ketahanan Sosial, Ketahanan Budaya >>> Ketahanan Energi
# Kebutuhan energi global rata-rata meningkat sekitar 2% per tahun.
# Sumber energi fosil, khususnya minyak bumi masih mendominasi pangsa pasar global, dan posisi ini diperkiarakan sampai dengan tahun 2030.
# Konsumsi energi final berdasarkan sektor 2006: industri 213.7 juta BOE, transportasi 199.6 juta BOE, rumah tangga dan niaga: 112.8 juta BOE, total: 526.1 juta BOE.
# Energi Perancis 80% dari PLTN (aman), tapi kenapa PLTN Muria tidak ada perkembangannya??? # Biofuel akan tidak menarik masyarakat jika harga BBM tetap murah.
Sandiaga S. Uno, Wirausahawan Terbaik Asia, Ketua Komite Tetap UKM Kadin
# Jangan pernah meremehkan UKM, sekalipun terjadi krisis, karena mereka punya kekuatan daya adaptasi. UKM harus meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya (cost).
# Hindari PHK sebisa mungkin, karena karyawan adalah aset ketimbang meng-hire karywan baru yang jelas2 membutuhkan investasi lagi untuk pelatihan, dll.
# UKM harus memiliki pasar baru, setelah AS dan Eropa ogah menerima barang UKM akibat terkena krisis finansial sekarang ini. puncak pengurangan order akan terjadi tahun 2009. Libya setelah lepas dari embargo, mereka tertarik mebel Indonesia, Hungaria idem.

Hartadi Sarwono (Deputi Gubernur BI)
# Rupiah melemah karena euforia, great ekspektasi karena Obama menang dalam Pilpres AS, sehingga dana masih banyak mengalir kesana. Keanehan terjadi ketika Rp melemah, justru neraca perdagangan kita surplus USD40 miliar, sedangkan ketika Rp kuat surplus kita hanya USD10 miliar.
# Mata uang negara lain juga overvalue, 1 Euro = USD1,6; 1 poundsterling = USD2. Minyak dan Gas
# Ditjen Migas Departemen ESDM: Cadangan Minyak Bumi Indonesia (per 1 Januari 2008), terbukti: 3.747.50 MMSTB; potensial: 4,471.72 MMSTB; total: 8,219.22 MMSTB. # Ditjen Migas Departemen ESDM: Cadang Gas Bumi Indonesia (per 1 Januari 2008), terbukti: 112.07 TSCF; potensial: 57.60TSCF; total: 170.07 TSCF.
# Produksi BBM (200702008): 800 ribu barel/hari, konsumsi/kebutuhan: 1,2 juta barel/hari. # Harga minyak tertinggi USD147/barel, sekarang harga terendah USD40/barel, harga yang oke untuk ekonomi Indonesia: USD60/barel.
# Harga premium Rp6000,00/liter, sekarang Rp5500/liter (aneh kan???)
# Pentingnya menata konsumsi kita, karena posisi kita sekarang adalah importir, bukan lagi eksportir. Tapi anehnya kita pada kondisi seperti ini penjualan mobil meningkat 48%, motor 40%. # Subsidi BBM tidak tepat sasaran, karena orang kaya naik mobil mengisi bensin dengan harga yang sama dengan orang miskin bermotor.

Batubara
# Puslitbang Tekmira: Sumber daya: 93,4 miliar ton. Lignit (kandung air 50%: 60%).
# Gas batubara bisa untuk pupuk, pabrik percontohan kapasitas 30-50 ton batubara/hari akan dibangun di PT Pupuk Kujang Cikampek.
# Investasi awal kilang pencairan batubara: USD8-10 miliar untuk pabrik kapasitas 80.000 bbl/hari. BEP baru dicapai setelah 7 tahun beroperasi. Pembangunan makan waktu 4-5 tahun. Di dunia hanya baru ada satu kilang: Sasol di Afsel.
# Substitusi burner solar dengan burner siklon: 1 liter solar ekuivalen dengan 1,8-2,0 batubara, harga solar Rp8.500,00/liter, harga batubara Rp1.200,00/kg, atau Rp8.500,00 diganti dengan 1,9 x Rp1.200,00= Rp2.280,00, atau penghematan Rp6.220,00 (73%).
# Contoh burner siklon untuk boiler 5 ton uap /jam: dengan solar, 350 liter solar/jam, 1 hari = 24 x 350 x Rp8.500,00 = Rp71.400.000,00. Dengan batubara, 700 kg/jam, 1 hari = 24 x 700 x Rp1.200,00 = Rp20.160.000,00. Atau penghematan biaya bahan bakar per hari = Rp51.240.000,00. Biaya burner siklon 750 kg/jam = Rp190.000.000,00. Jadi, biaya ke,bali dalam waktu kurang dari 1 minggu.
# Batubara diproyeksikan sebagai sumber energi utama pengganti minyak bumi di Indonesia tahun 2025.

Lebih dari Sekedar Sukses: Berkembang di Tengah Krisis

December 26, 2008

Boleh jadi inilah satu-satunya rekor MURI yang paling unik: Pendapatan sehari seorang peternak ayam setara dengan gaji seorang Kepala Sekolah SMA di Jakarta selama setahun. Rekor itu dipegang oleh seorang Sudirman Bur yang sukses memanen 25 ribu ekor ayam per harinya. Meskipun begitu, perjalalan menuju keberhasilan tersebut dilalui oleh Kepala Sekolah SMA 77 Jakarta itu dengan penuh liku-liku.

Bagi kebanyakan orang, krisis menjadi momok yang menakutkan. Krisis juga diidentikkan dengan ambruknya sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Krisis juga yang mengakibatkan suatu negeri kacau balau. Contohnya adalah krisis moneter yang melanda negeri Indonesia tercinta pada kurun waktu 1998. Celakanya, krisis ini menjadi tak terkendali. Maka menjelmalah ia menjadi krisis multidimensi: krisis moneter, krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis kepercayaan.

Namun tidak begitu dengan Sudirman Bur. Bagi peternak ayam yang “nyambi” jadi Kepala Sekolah SMA 77 Jakarta ini, krisis sudah laiknya seorang sahabat yang menyebabkan hidupnya justru menjadi warna-warni. Tengoklah lika-liku perjalanan bisnisnya. Dengan berpegangan pada falsafah: Jika ingin meraih sukses lebih dari orang lain, beranilah berbuat lebih dari orang lain, putra Minang ini telah kenyang dengan pengalaman jatuh bangun akibat hempasan krisis.Benar-benar berbobot kalimat yang diucapkan Lelaki yang September nanti genap berumur 53 tahun. Mungkin Anda takkan percaya, kalau yang mengucapkan kalimat sarat makna itu adalah seorang peternak. Pasalnya, kalimat itu hanya pantas diucapkan oleh seorang pebisnis ulung bagi para calon wirausahawan maupun wirausahawan, apa pun bidang yang digelutinya.

Saatnya Perbankan Melirik Agribisnis

December 26, 2008
Tak bisa dipungkri bahwa pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah begitu fantastis. Ditengah makin melimpahnya pengangguran di seantero negeri, UKM mampu menjadi dewa penyelamat. Seperti dikatakan ekonom UGM Dr. Sri Adiningsih, UKM mampu membuka lapangan pekerjaan kepada jutaan pengangguran. Di saat krisis multidimensi menyerang, justru UKM pula yang berjaya, padahal banyak industri berskala besar dan raksasa bertumbangan. Namun sayangnya belum banyak perbankan yang membantu pendanaan bagi UKM.
Suara nyaring juga terdengar dari Ahli Statistik ITS, Kresnayana Yahya. Pada sebuah seminar agribisnis di Solo (23/4), aktivis Masyarakat Peduli Gizi ini mengatakan bahwa meskipun perputaran uang di sektor UKM begitu cepat, namun perbankan belum banyak menggubrisnya. “Contohnya baru sebuah bank swasta nasional yang mau beroperasi di sebuah kecamatan di Blitar sana sekalipun daerah tersebut adalah sentra peternakan ayam terbesar di Blitar, bahkan Indonesia. Dan lagi, perputaran dana di daerah itu lebih besar daripada sebuah kantor cabang bank di Jakarta, “ujarnya.
Kresna mengimbuhkan, kondisi hampir serupa terjadi pada agribisnis perjagungan. Jika ditekuni dengan benar menaman jagung sangat menguntungkan. Bisnis ini memliki perputaran uang yang cepat dengan input produksi yang minim, namun memliki nilai tambah yang fantastis.

Solo: Rekor Makan Telur Rebus Terbanyak

December 26, 2008

Bertempat di Balekambang, Solo (12/11), telah terjadi pemecahan rekor dunia Indonesia makan telur rebus terbanyak, yakni sejumlah 5678 butir. Rekor yang tercatat pada nomor 3457/RI.MURI/XI/2008 ini menumbangkan rekor lama yang dipegang Brebes, 4250 butir. Penumbang rekor itu adalah anak-anak dari 30-an Sekolah Dasar yang termasuk ke dalam wilayah kerja Cabang Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kecamatan Banjarsari, Solo, utamanya yang berdekatan dengan Balekambang. Dengan begitu Dikpora diganjar oleh MURI sebagai pelaku kegiatan.

Acara fenomenal ini bertambah gayeng dengan kehadiran Walikota dan Wakil Walikota Solo, Joko Widodo dan FX Hadi Rudyatmo, serta Mayor Haristanto dari Republik Aeng-Aeng sebagai pencetus ide, Pinsar Unggas Surakarta yang dinobatkan sebagai penyelenggara pemecahan rekor dunia Indonesia ini, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Surakarta, plus PT Multiphala Agrinusa Sragen (Japfa Group) dan PT Sanbe Farma Bandung yang keduanya merupakan pendukung utama acara ini.

Dalam kesempatan itu, Marketing Manager Sanbe, drh. Sugeng Pujiono menyatakan salut atas kerja keras Pinsar Unggas Surakarta yang telah mampu membuat acara ini berlangsung cepat dan lancer. “Padahal kami merencanakan road show awal Desember nanti, sebagaimana jadwal yang sudah diatur. Namun ternyata teman-teman Solo sangat semangat dan kreatif, sehingga justru bias masuk rekor MURI. Setelah Bandung dan Solo, target berikutnya adalah Medan, Palembang, Surabaya, dan Denpasar, “ungkapnya. Kegiatan seperti ini, imbuh lulusan Unair ini, selain untuk public awareness akan pentingnya protein hewani, namun juga menyadarkan insan peternakan/perunggasan sendiri agar mereka bisa memiliki kesamaan visi dan misi perihal upaya peningkatan konsumsi protein hewani.

Sugeng menyinggung konsumsi rokok kita yang besar. “Untuk belanja iklan saja, rokok menghabiskan nilai empat triliun setahun. Selain itu, konsumsi pulsa kita juga tak kalah besar. Itu mengindikasikan rakyat kita mampu membeli, hanya saja perlu kita arahkan pada upaya-upaya penyadaran public pada konsumsi yang lebih berguna, contohnya telur ini. Makanya kita perlu koordinasi dengan insan peternakan yang lain agar efektif, “tegasnya. Edukasi-edukasi seperti halnya makan telur seperti ini, ujar Sugeng, perlu sering dilakukan. Kerjasama pun tidak hanya melibatkan insane peternakan, namun juga bisa mass media, seperti contohnya di Bandung kemarin melibatkan Koran Pikiran Rakyat. Di Solo sendiri melibatkan PT Multiphala Agrinusa, karena memang Japfa sangat care dan konsen terhadap upaya pencerdasan anak bangsa ini. Namun begitu, tidak menutup kemungkina acara sejenis bisa dikerjasamakan dengan pabrikan/pihak lain.

Sugeng membeberkan perihal model kampanye gizi di Bandung 1 Nopember kemarin, yakni mengundang ahli gizi dan Pokja PKK dengan dukungan gubernur. “Strategi Solo yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tapi juga mengundang para guru justru sangat tepat, dan itu diluar dugaan kami. Guru kan juga tokoh masyarakat. Di sinilah Pinsar Solo lebih kreatif, “akunya.

Sementara Ketua Pinsar Surakarta, Robby Susanto, menyatakan bahwa selain pemecahan rekor makan telur terbanyak, acara ini juga menjadi waktu tercepat dalam pelaksanaannya, karena hanya dengan waktu persiapan 4,5 hari acara ini bisa terlaksana. “Kampanye ini dilakukan untuk merayakan Hari Kesehatan Nasional 12 Nopember dan dimaksudkan untuk membantu pemerintah mengatasi gizi buruk, dan sosialisasi akan pentingnya protein hewani, “tandasnya. Dengan acara seperti diharapkan konsumsi telur masyarakat Indonesia bisa terdongkrak karena dibandingkan negara lain kita tertinggal jauh. Konsumsi telur Indonesia rata-rata baru 88 butir per kapita per tahun, sedangkan Jepang sudah 650, Perancis 510, Amerika Serikat 450, dan Inggris 330. Serasa belum cukup dengan acara ini, Pinsar Surakarta akan menyelenggarakan kampanye gizi sejenis ini pada awal Desember nanti.

Mengenai pemilihan lokasi di Balekambang, Robby berujar, “Keterlibatan anak-anak SD di Balekambang ini sejalan dengan kurikulum Dikpora berupa pengenalan budaya lokal, “aku Robby. Hebatnya, rekor ini menjadi realisasi ide yang ke-18 bagi Mayor Haristanto, Presiden Republik Aeng-Aeng.

Penjaringan Bibit Sapi Perah

December 26, 2008

Populasi sapi perah di Indonesia Tahun 2007 sebesar 377 ribu ekor (Statistik Peternakan 2007), dengan jumlah betina produktif 64%,
• Jumlah peternak sapi perah adalah sekitar 120.000 orang, belum terhitung petugas Inseminator, medis dan paramedis, serta penyuluh dan wasbitnak, merupakan potensi SDM yang masih dapat ditingkatkan kinerjanya.

• Potensi pengembangan ternak perah di luar Jawa cukup besar., a.l., Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Lampung, Sulawesi Selatan, Bali.

• Meningkatnya permintaan susu, terutama dalam upaya pencapaian Ketahanan Pangan asal hewani. Hal tersebut disebabkan antara lain dengan adanya pertumbuhan penduduk, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gizi berimbang, serta perbaikan sistim pendidikan nasional.

• Bertambahnya Industri Peternakan dan Peternakan sapi perah rakyat skala menengah, yang diharapkan dapat menjadi mitra kerja para peternak sapi perah dan koperasi susu;

• Potensi pasar Dalam Nageri sangat besar yang saat ini baru mampu diisi sekitar 30 % oleh produksi Dalam nageri, sedangkan sisanya dipenuhi dari impor.

Catatan: 1) Thn 2006 yg dikonsumsi 2.534.865 ton sudah dikurangi ekspor, pakan, dsb (24%)
2) Thn 2007 yg dikonsumsi 1.302.600 ton sudah dikurangi ekspor, pakan, tercecer (48% DN).

Kendala

1. Keterbatasan lahan untuk penyediaan pakan hijauan, khususnya di Pulau Jawa, karena tidak adanya kepastian pemanfaatan lahan. Luar Jawa lahan tersedia, namun investor tidak berminat menanamkan modal.
2. Kondisi skala usaha peternak sapi perah yang belum ekonomis (3-4 ekor/KK), karena peternak kurang modal dan sulit mencari pakan, usaha budidaya menjadi tidak efisien sehingga pendapatan peternak relatif rendah.
3. Kurang bibit ternak, biaya impor bibit mahal. Akibat : sistim peremajaan tidak berjalan dengan baik.
4. Penyakit reproduksi seperti Brucellosis, IBR, BVD, masih belum dapat diatasi, akibat : tingkat kelahiran rendah. Tingginya kasus mastitis subklinis menyebabkan kerugian ekonomis (penurunan produksi). Jumlah sel somatik juga berpengaruh terhadap kualitas produk susu olahan.
5. Penyediaan modal dari Pemerintah/Lembaga Keuangan belum dapat dimanfaatkan oleh para peternak dan koperasi karena masalah administrasi yang tidak mendukung.
6. Harga susu segar Dalam Negeri sering tidak stabil dan cenderung kurang berpihak kepada peternak.

Strategi Perbibitan Sapi Perah
1. Peningkatan Mutu Bibit
a. Peningkatan mutu genetik melalui uji zuriat dan IB mengunakan semen
pejantan unggul
b. Peningkatan produktivitas dan populasi bibit sapi perah melalui perbaikan
kapasitas reproduksi dan pakan
2. Peningkatan Jumlah Bibit
a. Percepatan peningkatan populasi bibit sapi perah di UPT melalui seleksi, IB dan
ET
b. Pengembangan sentra pembibitan sapi perah di luar pulau Jawa (Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi)
3. Optimalisasi Kelembagaan dan SDM Perbibitan
a. Peningkatan kualitas SDM Perbibitan
b. Penguatan modal bagi kelompok pembibitan
c. Peningkatan sarana dan prasarana perbibitan
d. Iklim usaha pembibitan yang kondusif
e. Pengembangan kelembagaan perbibitan (sinergisme dan kerjasama)

Program yang dilaksanakan untuk mengatasi kekurangan bibit:
1. Peningkatan skala usaha non ekonomis menjadi skala ekonomis 7-10 ekor sapi induk laktasi/peternak.
2. Program yang dilaksanakan untuk mengatasi kekurangan bibit:
Pada TA. 2006 : Program Aksi Perbibitan memberikan Dana Dekonsentrasi Bantuan bibit sapi perah untuk meranggairahkan peternak rakyat:
1) Propinsi Jawa Barat (1 kelompok nilai paket 850 Juta)
2) Propinsi Jawa Timur (3 kelompok nilai paket 1 milyar)
3) Propinsi Sulsel (1 kelompok nilai paket 200 juta)

Pada TA. 2008 : Program Pengembangan usaha pembibitan sapi perah di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa (VBC Sapi Perah) :
1) Propinsi Sumatera Barat (1 kelompok nilai paket 300 juta)
2) Propinsi Bengkulu (1 kelompok nilai paket 300 juta)
3) Propinsi Lampung (1 kelompok nilai paket 300 juta)
4) Propinsi Jawa Timur (1 kelompok nilai paket 300 juta)
2. Peningkatan Mutu genetik ternak melalui Perbaikan Kinerja Pelayanan IB (penyediaan semen beku berkualitas, penyediaan sarana peralatan, pelatihan Inseminator Mandiri).
3. Pengembangan Sexing Semen untuk meningkatkan kelahiran pedet betina
4. Percepatan produksi bibit melalui Uji Zuriat Sapi Perah Nasional guna menghasilkan bibit pejantan unggul yang cocok dengan kondisi & agroklimat di Indonesia dalam upaya mengurangi ketergantungan impor.
5. Optimalisasi BBPTU Sapi Perah Baturraden dan BET Cipelang untuk menghasilkan bibit unggul
6. Peningkatan aplikasi ET dan IB menggunakan semen beku impor di BBPTU Sapi Perah Baturraden dan stakeholders.
7. Dalam rangka ketersediaan bibit dilakukan peningkatan populasi sapi perah melalui impor bibit (pemasukan sapi dara-dara bunting).
8. Mendorong swasta dan masyarakat untuk pembibitan sapi perah.
9. Agar replacement berjalan maka pemerintah mempersiapkan rearing unit (memfasilitasi) dan terus mendorong sistem identifikasi program Sistem Identifikasi Sapi Perah Indonesia (SISI) yang sudah berjalan di beberapa KUD di Jawa Barat.
10. Penjaringan Betina Produktif.
11. Penerapan Good Breeding Practices & Good Health Practices terutama pada peternak skala kecil.
12. Kerjasama dengan luar negeri (Jepang/JICA, New Zealand dan Australia)
13. KUPS 200.000 ekor selama 5 tahun (2009 s/d 2013)

Sagu untuk Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

December 26, 2008

Saat ini dunia dihadapkan pada dua krisis besar, yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis pangan dipicu oleh adanya fenomena pemanasan global dan tidak meratanya distribusi. Sedangkan krisis energi dipicu oleh kian menipisnya cadangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil (migas dan batubara). Untuk mengatasi krisis terebut, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan diversifikasi, baik bahan pangan maupun bahan energi. Jagung, singkong dan sagu, adalah salah tiga komoditi yang saat ini dipercaya mampu mengatasi kedua krisis yang terus menghantui dunia dari waktu ke waktu. ”Khusus sagu, pemerintah menyebutnya sebagai tanaman unggulan dan memiliki potensi sebagai salah satu sumber pangan pokok selain beras, karena kandungan karbohidratnya (kalori) yang memadai dan memiliki kemampuan subsitusi pati sagu dalam industri pangan. Dengan demikian pengelolaan sagu Indonesia memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk ketahanan pangan dan energi nasional di masa mendatang, ” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan RI Laksmana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi pada Seminar Nasional ”Pemanfaatan dan Pendayagunaan Sagu Indonesia untuk Mengatasi Krisis Pangan dan Energi Nasional” yang diselenggarakan oleh Magister Sistem Teknik Fakultas Teknik UGM di Kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta (22/11).
Namun sayangnya, meski sebagai sumber pangan utama di Papua dan Maluku, pengembangannya belum ditangani secara intesif. Hal itu, imbuh Freddy, dikarenakan politik pangan Indonesia sangat bertumpu pada tanaman padi. Padi atau beras menjadi tolok ukur untuk menentukan tingkat konsumsi karbohidrat. Padahal tidak semua daerah di Indonesia dapat ditanami padi atau penduduknya terbiasa menanam padi atau secara tradisi tidak mengandalkan padi sebagai bahan pangannya.
”Namun demikian, kita patut bangga dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009, yang menyatakan bahwa sagu termasuk salah satu komoditi potensial untuk dikembangkan. Dengan demikian sagu memiliki harapan dan peluang untuk dijadikan sebagai salah satu komoditi pangan nasional, ”ungkap putra Papua ini.

Potensi Sagu
Berdasarkan data yang dikemukakan oleh Michiel Flach (1997), seorang pakar tanaman sagu asal Belanda, Papua merupakan pusat sebaran sagu terbesar di dunia dengan perkiraan areal ± 1.200.000 ha atau 53% dari sagu dunia (±2.250.000 ha), dan 96% dari luas sebaran alami sagu Indonesia. Luas hutan sagu di Indonesia adalah ±1.250.000 ha, namun budidayanya baru mencapai 148.000 ha. Dikatakan Yan Pieter Karafir dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Papua, meskipun Indonesia memiliki lahan sagu terluas di dunia, upaya-upaya pengembangan sagu, termasuk penelitian-penelitiannya boleh dikatakan tertinggal dibandingkan dengan Jepang dan Malaysia. ”Hal itu terlihat dari hasil-hasil penelitian mereka yang dipresentasikan dalam Simposium Sagu Internasional 2008 ke delapan yang diselenggarakan di Jayapura, ”ungkapnya.
Tergelitik ingin mengetahui potensi riil sagu, pada tahun 1994 J.E. Louhenapessy dari Universitas Pattimura Ambon mengadakan penelitian tentang sagu. Hasilnya adalah pada kondisi lahan yang baik yaitu dengan tingkat kesesuaian lahan sangat sesuai sampai sesuai dapat menghasilkan 30-50 pohon MT/ha dan produksi pati sagu kering per pohon (P) 250-500 kg. Apabila diambil rata rata-rata 40 pohon MT/ha dan produksi 375 kg pati sagu kering per pohon, maka produksi pati sagu kering per hektar pada kondisi hutan dapat mencapai 15.000 kg/ha atau 15 ton/ha/tahun. Pada tingkat kesesuaian lahan marjinal dengan jumlah pohon 15 pohon MT/ha dan produksi 150 kg per pohon, maka produktifitasnya hanya mencapai 7,5 ton/ha/tahun.
”Pati sagu oleh masyarakat Papua dan Maluku dijadikan bahan makanan pokok dalam bentuk papeda, sagu lempeng, dan sinoli. Sedangkan sebagai penganan pati sagu disajikan dalam bentuk bagea, sarut, sagu tumbuk, dan makrone yang sudah dikembangkan sejak lama, ”papar Louhenapessy. Bahkan ulat sagu (sabeta) yang berkembang pada batang bekas tebangan dan jamur ela yang tumbuh pada ampas empulur (ela sagu), imbuhnya, sudah merupakan tambahan pangan dengan protein dan lemak yang tinggi.
Dengan fakta tersebut, Freddy yang pada kesempatan itu juga meluncurkan bukunya berjudul ”Sagu dalam Prospek Ketahanan Pangan dan Energi Nasional (Potensi yang Terabaikan)” secara tegas menyatakan bahwa sagu merupakan komoditas unggulan dan perlu adanya penetapan perihal Lahan Sagu Abadi (berkelanjutan) dalam Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Daerah sebagai payung hukum pengelolaan sagu nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi nasional.
Nah, dalam rangka memasyarakatkan sagu ke tingkat internasional, dari hasil-hasil penelitian di negara lain disebutkan bahwa tanaman sagu dan produksinya telah diangkat ke tahap industrialisasi dan produksi massal. Contohnya adalah sebuah perusahaan swasta nasional bernama TPS Group yang baru-baru ini mengembangkan sagu sebagai bahan baku pangan, seperti contohnya bihun, substitusi bahan baku mie dan biskuit. Bahkan anak perusahaannya, TPS Agro pun berencana memroduksi tepung sagu sebanyak 1 juta ton/tahun dengan kebutuhan lahan seluas 100.000 ha. Namun sayangnya niat tersebut terkendala oleh perijinan.

1000 Desa Mandiri Energi
Selain untuk pangan, sagu bisa pula dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan bioenergi (biodiesel). Sangat tepat kiranya dengan kondisi Indonesia yang selama ini mengalami ketergantungan terhadap minyak bumi. ”Saat ini Indonesia menjadi negara net importer BBM, dengan jumlah 30% dari total konsumsi BBM kita yang berjumlah sekitar 60 juta kL. Padahal tahun 1970-an kita masih menjadi pengekspor minyak bumi, ”ujar Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Saryono Hadiwidjoyo pada Seminar Nasional ”Mampukah BBN Menggantikan BBM?” yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian UGM di Kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta (22/11).
Dan kenyataannya, imbuh Saryono, meskipun jumlah cadangan dan pasokan dalam negeri kian menurun, laju konsumsi BBM justru diperkirakan kian meningkat dengan pertumbuhan sekitar 7%/tahun. Kebutuhan BBM itu selain untuk industri dan transportasi, juga untuk rumah tangga. Bahkan tahun 2008 nilai subsidi APBN untuk BBM, menurut Koordinator Tim Teknis Pengembangan Biofuel-Ditjen Perkebunan Ir. Supranto Ariwibowo, MSc. Ph.D. mengalami kenaikan menjadi Rp126,8 triliun, dari sebelumnya Rp83,7 triliun.
Terkait dengan masalah tersebut, ujar Saryono, salah satu kebijakan pemerintah pemerintah adalah rencana pengurangan atau bahkan penarikan penggunaan BBM tanah untuk keperluan rumah tangga, yang digantikan dengan LPG. Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah juga telah mendorong upaya-upaya untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif lainnya yang dianggap layak dilihat dari segi teknis, ekonomis, dan ramah lingkungan hidup antara lain Bahan Bakar Nabati (BBN).
”Dengan begitu, pemerintah segera mengembangkan program diversifikasi energi melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Target Bauran Energi Nasional. Komposisinya adalah minyak bumi 20%, batubara 33%, dan energi terbarukan 17% yang terbagi menjadi bahan bakar nabati 5%, panas bumi 5%, biomassa, nuklir, tenaga air, energi matahari, dan tenaga angin 5%, serta batubara cair 2%, ”jelas Saryono.
Bahkan pemerintah, melalui Peraturan Menteri ESDM No. 32 sudah menjadwalkan pentahapan kewajiban minimal pemanfaatan biodiesel (B100) dimana pada tahun 2010 nanti target pencapai yaitu 5,5% (transportasi), 5% (industri dan komersial) dan 1% (pembangkit listrik). ”Sedangkan untuk rumah tangga saat ini tidak ditentukan, ”ujar Saryono.
Terkait dengan program BBN, papar Saryono, baru-baru ini Departemen Pertanian menyatakan bahwa proyeksi sampai dengan tahun 2010 diupayakan telah terbentuk sebanyak 1000 Desa Mandiri Energi (DME). ”Di Yogyakarta, DME ada di Pajangan, Bantul dan Gunungkidul, nanti menyusul daerah lain, ”ucapnya. Menurut pengakuan Deptan, jelasnya, program BBN mampu menyerap tenaga kerja baru sebanyak 3,5 juta orang dengan penghasilan tidak beda jauh dengan UMR di masing-masing daerah.
Tentunya kita harus segera menyingsingkan lengan baju, bekerja sekuat tenaga untuk menyelematkan manusia Indonesia dari krisis pangan dan energi ini. Kita bisa mencontoh Brasil dengan keberhasilannya berswasembada pangan dan menguasai 75% konsumsi energinya dengan BBN. Jangan karena lemahnya sense of crisis dan penegakkan hukum, melegalkan kita untuk tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.

Selamatkan Hutan Kita Segera!

December 26, 2008

Seminar Nasional “Evaluasi dan Transisi Kehutanan” pada rangkain Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Kehuatan (LKMK) 2008 di kampus Bulaksumurm Yogyakartam (29/11).
Agus Sukamto (Presiden LEM Fakultas Kehutanan UGM)
Sepuluh tahun sudah reformasi berlangsung di tanah air Indonesia. Perubahan-perubahan kebijakan kehutanan turut mewarnai di setiap era, orde, atau rezim kepemimpinan di negeri kita. Namun sayangnya, bukannya perbaikan yang terjadi, justru perubahannya kian menambah beban dan memperburuk nasib bangsa ini. Faktanya, Indonesia dengan kekayaan alamnya yang luar biasa ternyata belum mampu menjadikan rakyatnya makmur dan sejahtera. Sungguh ironis.
Hal ini tidak lain disebabkan karena policy yang ditetapkan Pemerintah tidak berorientasi pada kemakmuran dan kemandirian rakyatnya, namun lebih berpihak pada golongan-golongan kaya, pengusaha-pengusaha bermodal besar, serta bangsa asing yang memiliki pengaruh kuat dalam hubungan multilateral antarnegara. Kita bisa lihat dalam era Pemerintahan Megawati Soekarnoputri, tata air, serta penyangga ekosistem malah dijadikan lahan tambang bagi ke-14 perusahaan tambang besar dalam negeri. Pada era sekarang dibawah kepemimpinan SBY-JK muncul kebijakan tentang penerimaan nasional non pajak dari kawasan hutan. Hutan yang sejatinya memiliki harga jual yang sangat mahal, malah dijual seharga pisang goreng.
Bahkan lebih parah lagi pada 2007, Guiness Book of Record menetapkan Indonesia sebagai negara penghancur hutan tercepat. Sebagai salah satu dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan di dunia, Indonesia meraih tingkat laju penghancuran tercepat antara tahun 2000-2005, yakni dengan 1,87 hektar atau 2% setiap tahun atau 51 km2, atau setara 300 lapangan sepakbola setiap jamnya. Jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75%). Bila dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97%), berarti jumlah penduduk miskin yang ada di negeri ini meningkat sebesar 3,95 juta jiwa dan pada Maret 2007 sebesar 37,17 juta jiwa (BPS, 2007). Pada tahun 2007, angka pengangguran terbuka diperkirakan bertambah 12,6 juta jiwa. Dengan demikian jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai 45,7 juta jiwa,
Sementara itu, perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global mendorong penyebaran wabah penyakit. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang disebabkan oleh nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya akan semakin meluas, karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelum terlalu dingin. Saat ini, 45% penduduk dunia tinggal di daerah dimana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria, prosentasi itu akan meningkat menjadi 60% jika temperatur/suhunya meningkat.

Dr (HC) MS Ka’ban (Menteri Kehutanan RI)
Pada tahun 1960-an, kawasan hutan produksi masih berupa hutan belantara yang didominasi hutan perawan dan disebut-sebut sebagai green gold . didorong oleh pemenuhan kebutuhan valuta asing untuk membiayai pembangunan, maka ekstraksi kayu di kawasan hutan produksi dilakukan dalam skala yang cukup luas. Menyadari keperluan produk kayu olahan yang masih harus diimpor, sedangkan Indonesia mengekspor kayu bulat dalam volume yang cukup besar, maka pada awal tahun 1980, Pemerintah merasa perlu mendirikan pabrik kayu berbasis industri plywood, sebagai substitusi impor yang semakin tinggi. Melalui kebijakan pengurangan ekspor kayu bulat secara bertahap yang pada akhirnya dihentikan pada tahun 1985, maka industri kayu lapis berkembang dengan pesat dan menjadikan Indonesia sebagai eksportir kayu lapis terbesar.
Pemungutan kayu dari hutan alam sejak awal tahun 1970 yang demikian intensif berakibat kepada penurunan kualitas hutan alam. Pembangunan industri kayu berbasis plywood mengurangi laju pertumbuhan industri kayu lain, sehingga struktur kayu Indonesia yang didominasi oleh satu komoditi tersebut limbung ketika diterpa resesi ekonomi dan keuangan tahun 1998. Belum lagi pulih dari resesi tersebut, datang lagi resesi global yang sedang kita alami saat ini.
Sebagai akibat dari semakin meluasnya areal hutan produksi yang terdegradasi akibat dari akumulasi kegiatan illegal dan kebakarans erta praktek pengelolaan hutan yang tidak sesuai, maka kemampuan pasok hutan produksi alam untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kayu semakin menurun, sedangkan kebutuhan akan kayu semakin meningkat.
Dalam rangka merehabilitasi kawasan hutan yang terdegradasi, sekaligus meningkatkan kualiats sumber daya hutan, maka sejak tahun 1980-an Pemerintah mulai membangun hutan tanaman industri. Pembangunan hutan tanaman industri, yang mulai meningkat pada tahun 1990 akan menjadi tumpuan industri kayu di masa depan.
Perubahan struktur bahan baku sebagai akibat dari menurunnya peran hutan alam sebagai pemasok bahan baku, digantikan dengan hutan tanaman industri, akan mengubah struktur industri kayu Indonesia. Saat ini industri pulp/paper merupakan pengguna utama kayu dari hutan tanaman dan mau tidak mau industri kayu lainnya pun akan mengikuti.
Seperti halnya hutan produksi, kawasan hutan konservasi dan hutan lindung juga terdegradasi cukup hebat. Masalah ekonomi dan sosial memiliki andil kepada kerusakan hutan di kedua kawasan tersebut. Dengan demikian, tantangan ke depan, pengelolaan kawasan hutan konservasi dan lindung tidak cukup hanya dari aspek lingkungan/ekologi saja, tetapi perlu memperhatikan aspek ekonomi dan sosial-budaya. Sebagaimana halnya dengan hutan produksi, maka kawasan hutan konservasi dan lindung harus dapat memberikan manfaat ekonomi, selain manfaat sosial-budaya dan utamanya lingkungan.
Saat ini masalah ekonomi dan sosial seringkali dijadikan justifikasi untuk mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek, mengabaikan kelestarian usaha dan kelestarian sumber daya. Hutans ellau dikatakan tidak dapat memebrikan kesejahteraan masyarakat, meskipun kita semua juga tahu bahwa yang menikmati keuntungan dari usaha kebun adalah pemilik modal. Hutan dianggap sebagai penghambat pembangunan sektor lain, sehingga hutan ditekan daris egala penjuru agar senantiasa mengakomodasi perubahan peruntukan yang belum tentu memberikan kontribusi kepada pembangunan nasional berkelanjutan.
Bisnis kehutanan dianggap kurang menguntungkan, paling tidak untuk jangka pendek, penuh risiko dan tidak menentu, karena sifatnya yang jangka panjang. Akibatnya tidak ada lembaga keuangan, termasuk bank, yang tertarik untuk emndanai bisnis kehutanan. Bank lebih suka memberi kredit rumah dan beli mobil, karena selain jangka pendek, risikonya sangat kecil.
Hal tersebut di atas merupakan tantangan bagi para rimbawan untuk meluruskannya. Marilah kita, para rimbawan, membangun persepsi yang benar, bahwa sumber daya hutan merupakan pendukung utama pembangunan nasional berkelanjutan, yang meliputi pembangunan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.
Adalah ironis ketika masyarakat internasional menunjukkan concer-nya terhadap kelestarian hutan tropika Indonesia, karena perannya sebagai paru-paru dunia, tetapi kita sendiri tidka peduli dengan kelestarian sumber daya hutan, meskipun pada musim hujan ini sehari-hari kita lihat terjadi banjir dan tanah longsor di seluruh pelosok tanah air. Bila musim kemarau datang kita akan dihadapkan pada kekurangan air dan kekeringan dimana-mana, seharusnya kejadian-kejadian tersebut sudah cukup untuk membuka mata hati kita untuk segera bertindak secara bersama-sama dan bersinergi menyelamatkan hutan yang tinggal sedikit tersisa.
Memyikapi situasi dan kondisi pengelolaan hutan ini, maka Departemen Kehutanan telah menempuh berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan kehutan tersebut di atas dengan menetapkan lima kebijakan prioritas, yakni:
1) Pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal
2) Revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan
3) Rehabilitasi dan konservasi sumber adaya hutan
4) Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan
5) Pemantapan kawasan
Pembatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal ditempuh mellaui dua pendekatan, yakni penegakkan hukum dan pendekatan kelembagaan. Penyempurnaan peraturan perundang-undangan dan perbaikan sistem administrasi dilakukan untuk tertib administrasi dan memudahkan penelusuran asal-usul kayu.
Kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan merupakan dua sisi mata uang yang tdiak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan menjadi salah satu program prioritas Dephut. Dengan diberikannya akses yang lebih luas kepada sumber daya hutan diharapkan masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraannya dan dpaat menahan diri untuk tidak tergoda melibatkan diri dalam kegiatan illegal, yang pada giliannya akan meningkatkan kepedulian masyarakat atas kelestarian sumber daya hutan. Untuk itu, Pemerintah mengalokasikan 5,4 juta hektar hutan produksi untuk pembangunan hutan tanaman rakyat.
Konsekuensi logis dari kebijakan pemanfaatan hutan produksi yang lestari tersebut, diperlukan adanya peningkatan peran serta pelbagai pihak, kesiapan SDM yang profesional dan terencana di seluruh lini, meliputi unsur Pemerintah, pelaku suaha, dan LSM/NGO. Sebagai konsekuensi dari penerapan sertifikasi mandatori, maka Pemerintah sedang mempersiapkan Tenaga Teknis (Ganis) dan Pengawas tenaga Tekni (Waganis) dan penegmbangan SDM melalui LSP. Sedangkan pelaku usaha dituntut untuk memiliki tenaga profesional dan organisasi perusahan ahrus akuntabel dan trasparan. Sebagai pengawas pembangunan, LSM/NGO juga dituntut untuk memiliki tenaga profesional. Perguruan tinggi pun bisa berperan dalam menciptkaan rimbawan profesional, sebagai mentor pelaksanaan pengelolaan sumber daya hutan berdasarkan pengalaman lapangan, dan sebagai watch dog pelaksanaan pengelolaan sumber daya hutan melalui proses interaktif.